السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Sahabat seiman,..
Dapatkah kita rasa dosa yang meluka fitrah. Sungguh setitik lalai itu mengurai kesegarannya, sebutir amarah mengusik ketenangannya. Bertahanlah di stasiun iman,.. meski telah jauh ia mengarah, takkan putus dari sumbernya,.. betapapun lama perjalanannya, takkan terpisah dari sumbernya.

Sahabat seiman,..
Cinta di dada pun tak ingin terluka. Siapa yang tak merasa pedih hati kala cinta dikhianati. Siapa yang tak penasaran balasan cinta kala ketulusannya dipertanyakan. Para sahabatpun tak kuasa memejamkan mata, introspeksipun membahana mengumpulkan data, berharap kiranya laki-laki yang cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya bersambut mesra adalah dirinya.

Sahabat seiman,..
Lihatlah dahsyatnya cinta kala ia bersambut mesra, kekuatannya mampu membangkitkan semangat pertempuran, ketulusannya mampu mengundang pertolongan-Nya, sakitpun bukan menjadi alasan, lihatlah bagaimana Ali Bin Abi Thalib membuktikannya di medan khaibar. [Disarikan dari H.R. Muttafaq ‘alaih, dari sahabat Sahl Bin Sa’ad]

Sahabat seiman,..
Cinta itu memang ada, mengakuinya begitu mudah, apalagi menikmatinya. Tetapi siapakah yang dapat merawat ketulusan-Nya, menunaikan tuntutannya dan membuktikannya agar ia layak mendapat balasannya.

Sahabat seiman,..
Kala cinta mudah jatuh kepada siapa saja, ketika diri berharap besar ingin dicinta. Maka ingatlah, Allah dan Rasul-Nya lebih berhak mendapatkannya. Dan bila Allah dan Rasul-Nya telah mencinta kita, maka seluruh makhlukpun akan mencinta pula. Selamat beraktifitas! (@_SaiBah)