“Maka apabila kamu telah selesai [dari sesuatu urusan], kerjakanlah dengan sungguh-sungguh [urusan] yang lain.” 94: 7

Mengapa Alloh memerintahkan kita segera kembali bekerja dan menyelesaikannya dengan baik begitu rampung dengan satu pekerjaan? Karena waktu kita tidak banyak! Hidupmu terlalu singkat untuk ambil jeda. Tantangan hidupmu adalah bagaimana mengisi jatah usiamu dengan hal-hal yang bermanfaat. Titik balik dalam hidup terjadi saat kau menyadari harus bertanggung jawab terhadap setiap kesuksesan dan kegagalanmu.

Maksudnya?

Jika kamu tidak puas pada capaianmu hari ini, mulailah dengan melakukan perubahan. Sebab jika hari ini kamu gagal ujian, itu semua buah dari pilihanmu! Bukankah itu semua berkat akumulasi dari ribuan keputusan yang kamu ambil sebelumnya? Jika  hari ini kamu hidup boros, tidak pernah menabung, itu berarti kamu telah menentukan posisimu nanti!

Ayat di atas juga menyiratkan perintah untuk memberi makna pada hidup secara maksimal. Bahkan untuk orang lain. Sebab kalau hidup hanya untuk kecukupan diri sendiri, kita tak perlu bekerja dan berkarya maksimal. Itu yang disebut kepedulian pada sesama. Gelas ukur kualitas kita bahkan pada seberapa besar kita bermanfaat untuk orang lain. Bukan hanya pada diri sendiri. Kepedulian, mengasah kepekaan!

Sabda Rosul: “..tidaklah beriman seseorang sampai ia menyukai kebaikan bagi saudaranya seperti ia menyukai kebaikan untuk dirinya sendiri..”

Disitulah makna perintah berlomba-lomba dalam kebaikan. Dalam lomba ada kompetensi, adu cepat memberikan yang terbaik, karena kamu tidak bekerja sendirian. Jangan terjebak dalam rutinitas seperti penebang kayu yang hasil kerjanya kian menurun meski ia merasa sudah bekerja lebih keras.

Ternyata..

Ia merasa kehilangan kemampuan. Majikannya bertanya: “Kapan terakhir kali kamu mengasah kapakmu?”
Kata tukang kayu ia sangat sibuk, tidak punya waktu untuk itu.

Mendengar pengakuan itu, sang majikan menukas: “Disitulah masalahmu! Dengan kapak terasah, kamu bisa menebang banyak pohon. Berikutnya, dengan tenaga yang sama, menggunakan kapak yang sama tapi tidak diasah, kamu tahu sendiri hasilnya. Maka sesibuk apapun, kamu harus meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu.”

Kita juga ingin memiliki berbagai peran untuk memaknai hidup, sesederhana apapun peran itu. Namun semua kita memiliki banyak keterbatasan: terbatas waktu, tenaga, pikiran, materi..

Memang tidak mudah memainkan peran dengan maksimal. Di sini diperlukan kepandaian membuat skala prioritas. Jaga agar satu peran tak membenamkan dan menyita semua waktu dan perhatian. Tetaplah memberi waktu untuk orang-orang tercinta termasuk untuk dirimu sendiri. Cinta merekalah energimu.

Kadang kita merasa hidup seperti dikejar-kejar dan diburu. Tak tahu siapa yang mengejar dan memburu?!?
Banyak orang menginginkan sukses dengan segera. Namun bersikaplah realistis, jangan pernah mengukur dengan capaian orang lain, nggak akan ada habisnya. Maka rayakanlah setiap keberhasilan. Betapapun kecilnya keberhasilan itu. Itulah cara menghargai diri sendiri.

Inilah saatnya mengitung-hitung apa peran dan bagaimana kita telah berperan. Masih ada waktu mengubah segalanya agar menjadi lebih baik.

#aL faLaH @emkatangguletgmaildotcom