1. Diam itu tidak selalu bermakna setuju, apalagi disebut ijma’.
  2. Sebab, diam itu bisa berarti lagi mikir: bagaimana cara bersikap dan cara merespon yang tepat.
  3. Bisa juga diam itu terjadi karena terperangah, terkejut dan kaget, sehingga tidak bisa berkata-kata.
  4. Diam juga bisa terjadi karena kemampuan yang dimiliki hanya sampai pada tataran inkar bil qolbi, meskipun hal ini merupakan adh’aful iman.
  5. Diam dalam arti tidak berkomentar, bisa jadi karena seseorang meresponnya dengan cara beristighfar atau istirja, sehingga moment untuk bersikap dan berkomentar menjadi terlewat.
  6. Diam bisa terjadi karena hal-hal yang lain..

Intinya,-
إذا ورد اﻻحتمال، سقط اﻻستدﻻل
Sesuatu kalau mempunyai banyak kemungkinan, maka dia tidak bisa dijadikan dalil atau bukti

Perlu kita pahami bersama, terutama bagi yang telah mengazzamkan diri sebagai seorang penyeru.. dituntut lebih dari ini, dituntut untuk memberi tafsir terbaik kepada para penyeru lain. Adapun tafsiran kepada yang bukan penyeru, ya terserah saja.. Adapun kita perlu bereaksi, ya tafadhdhol saja.

Jangan su’udzon dulu, berhati-hatilah kita dalam menilai. Fenomena di permukaan belum tentu tafsirnya seperti yang terlihat..
Wallohu a’lam

* [ukuran yang tepat]