#copas from milis.. semoga bermanfaat ^^

Penyakit riya (ingin dilihat dan dipuji) begitu halus dibisikkan oleh setan menyelinap di sela-sela amal ibadah kita. Tanpa muhasabah (evaluasi) dan muroqabatulloh (merasa terus terpantau oleh Alloh) terus menerus, boleh jadi dia telah sekian lama mengiringi dan menghiasi setiap langkah dan amal kita. Karenanya, Rasululloh saw sangat mengkhawatirkan masalah ini di tengah umatnya.

Beliau bersabda, “Yang paling aku takutkan dari kalian adalah syirik kecil.” Ketika beliau ditanya tentang apa itu syirik kecil, beliau bersabda, “Riya.” (HR. Ahmad)

Namun, kekhawatiran seseorang terhadap riya sehingga menghalanginya untuk beramal, juga merupakan bisikan setan dari sisi yang lain. Maka tidak sedikit orang yang enggan melakukan aktifitas kebaikan yang tampak dan terlihat karena takut riya, padahal di sana terdapat manfaat yang besar, baik bagi dirinya ataupun orang lain.

Maka dalam hal ini, upaya setan di antara dua; Seseorang beramal namun disertai riya, sehingga amalnya gugur di sisi Alloh, atau dia tidak beramal sama sekali karena takut riya sehingga nilainya sama saja dengan orang yang pertama.

Singkirkan bisikan setan dengan terus beramal  dan selalu waspadai hati dari sikap riya; Itulah ikhlas….

Fudhail bin Iyadh berkata,

تَرْكُ الْعَمَلِ لأَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ ، وَالْعَمَلُ لأَجْلِ النَّاسِ شِرْكٌ ، وَاْلإِخْلاَصُ أَنْ يُعَافِيَكَ اللهُ مِنْهُمَا

“Meninggalkan amal kerena orang lain adalah riya, beramal karena orang lain adalah syirik, dan ikhlash adalah apabila Alloh menyelamatkanmu dari keduanya.” (Syu’abul Iman, Al-Baihaqi)

Allohumma waffiqna bil amalishaalih, warzuqnal ikhlaasha fiihi (Ya Alloh, berilah kami taufik untuk beramal saleh, dan karuniakan kami keihklasan di dalamnya)

 

# Riyadh, Rabi’ul Awal 1433