ibRoH..
Saya jadi agak ngeh dengar cerita seorang ikhwah..

Pada suatu masa ia sangat mencintai saudara2nya, sampai orang yang ngelihat lebay mungkin. Lah gimana, di selasar kampus sampai teriak karna melihat saudaranya, menyatakan rasa kangennya karna lama ga ketemu [padahal ya ga da sepekan *_*]. Tapi ternyata apa yang ia peroleh, jauh dari harapan [yang sering kita menyebutnya dinamisasi halaqoh]. Sudah memuncak mungkin sampai membuat dia “mutung” sekali males dateng liqo, gara2 “marah” pada temen2nya. Setelah hari itu, ternyata dia “tersadar” karna lihat Naruto,, gubragh! Bukan mendapat tausiyah ato makanan yang berat2, malah nonton pilm😐

Iya bener, cerita yang di naruto itu mirip tarbiyah, liqo, halaqoh,.. bedanya yg diajarkan di situ silat. Naruto yang sangat mencintai temen2nya, suka mencari2 perhatian karna ia ingin disayangi. Tapi seburuk apa yang ia terima, ia tetap mencintai saudaranya.

[Cerita ikhwah lain juga, di beda sesi, kok ya dua2nya penggemar Naruto, kok bisa pikirku] Kisah cinta Naruto pada Sakura, tapi ternyata Sakura mencintai Sasuke [seorang yang lebih terobsesi pada ilmu, meskipun jalannya salah]. Dan ketika Sasuke pergi untuk memenuhi ambisinya, Sakura menangis T_T dan untuk menghibur Sakura, Naruto bilang “yah, aku akan membawa Sasuke kembali” Hiks, so sweet.. bukan kisah cintanya yang mengharukan, tapi pada kebesaran dan ketulusan hati Naruto, huhu.. [hasil penilaian pribadi :p]

Kembali ke ikhwah yang pertama tadi sampai dia menangis setelah nonton naruto, menyadari “kekeliruannya” selama ini. Trus dia sms ke teman2nya “.. afwan, atas sikapku selama ini. Sebenarnya aku mencintai antum dan yang lain seperti Naruto mencintai Sasuke” Sampai temennya ga paham, maksude opo sih, mari marah2 malah sms geje ngene [yah karna yang lain ga maniak Naruto].

Di episode lain digambarkan sosok pemimpin yang sangat jelas peranannya. Pernah dilihatkan Hokage sampai “menangis” memikirkan “negerinya”. Komennya “Wah berat juga ya jadi seorang qiyadah itu” T_T

Cerita singkat tadi setidaknya sedikit mencerahkan dan menguatkanku bahwa hikmah itu ibarat barang yang hilang. Siapapun berhak menemukannya, kapanpun dan dimanapun =)

Mohon maaph kalo ada salah nama ato narasi, maklum hanya sebagai pendengar😀
Kisah ini sy tulis di 2 tahun yang lalu.. waktu peran qiyadah ditanyakan teman2.. berdialog panjang, sampai ada yang cerita seorang akh telep ustadz Mu******* langsung dari Irian sana, untuk memastikan apakah jamaah kita ini masih di jalan yang benar?
Kalau sy mikirnya, masya Alloh.. ustadz2 kita ini juga seperti mereka, bagaimana menjalankan amanah di lingkup lebih kecil ini, yang kadang sering kita anggap sebelah mata karena tidak sesuai dengan manhaj dan idealisme. Wallohua’lam.

Salah satu kekuatan seorang leader adalah kemampuannya membaca peta gagasan orang lain & mensinergikan keberagaman pandangan.. karena frame berpikir & sudut pandang / perspektif setiap individu berbeda..