mencoba sharing, menggali pengalaman untuk kita kukuhkan
untuk mengembalikan wajihah ke dalam kader2 yang militan dan profesional, menghidupkan ikatan2 profesi
catatan acak,.. kurangnya mohon dilengkapi
Flashback ke belakang terhadap apa yang sudah kita lakukan untuk dakwah..

^d^

Dakwah terus mengalami peningkatan. Marhalah ke marhalah tuntutannya berbeda. Setiap marhalah memiliki konsekuensi logis, dan ini sangat berpengaruh pada pola pembinaan. Meskipun pindah marhalah, liqo adalah sesuatu yang tsawabit, tidak bisa berubah. Ada sebagian ikhwah yang berpendapat liqo cukup dengan membaca, apakah ini benar? Karena liqo adalah sesuatu yang tsawabit dalam jamaah ini,.. yang mungkin berubah adalah uslubnya: masalah teknis, metode, cara, manhaj yang dikembangkan. Sama juga dengan syuro dalam mengambil keputusan adalah merupakan tsawabit harokiah, tsawabit jamaah.

Dulu jaman dakwah di awal, ada beberapa ikhwah karena prinsip al wala’ wal baro’, sampai tidak mau diwisuda karena pakaian toga. Ada juga yang ninggal ujian karena ikut dauroh. Waktu itu dapat 2 jempol untuk ikhwah-ikhwah seperti ini karena diperlukan kader yang bener2 punya militan tinggi. (y) (y) Kalau sekarang yang ikut dauroh sampai ninggal ujian akan dimarahi.. tidak tawazun. Kita sekarang masuk menuju mihwar dauli, ranahnya semakin besar dan luas.

Kita berani maju,.. Sekda aja, okelah,.. Sekda dari mana? Ternyata untuk sekda itu harus eselon 2. Mau ngurusin eselon 2 aja susah.. Itu bagian dari tryin’error, suatu pembelajaran.. Tuntutan marhalah ke depan diperlukan tuntutan2 profesional dalam bidangnya masing2. Keseharian,.. mereka yang mengendalikan roda pemerintahan, seberapa banyak kader kita di sana?

Sebaran dakwah harus semakin diperluas. Diperluas ke ranah publik yang akan mendukung kita, misalnya masuk geng motor dan mengubahnya menjadi komunitas pecinta motor. Sebaran dakwah dari jaman dulu menaruh harapan besar kepada kaum muda yang memiliki karektersitik,..Cerdas ketika bertindak, melakukan sesuatu memikirkan jauh ke depan.. memikirkan efek dari yang ia lakukan,.. Bisa melewati dimensi ba’dal maut. Bukan hanya berpikir akhirat, tapi dunia akhirat dipikirkan efeknya. Cerdik dan pandai yang memiliki hikmah, kebijaksanaan. Banyak kisah2 dicontohkan, karekteristik sahabat yang memiliki sifat seperti ini. Karakteristik pemuda adalah :: bukan seorang pemuda yang ngomong bapak saya begini, bapak saya begitu,.. tapi ini gue.. bukan dalam hal negatif, tapi kemandirian. Kata imam syafi’i,.. Bukan seorang pemuda yang membesar2kan orang tunya.. Hidupnya seorang pemuda itu dengan keilmuan dan ketaqwaan,. kalau engkau tidak melihat 2 karakter ini dalam pemuda: ia tidak dianggap pemuda.

Karakter pemuda yang menjadi harapan dalam perjuangan dakwah ini. Dari sekian orang yang hijroh pertama, berapa orang yang termasuk orang tua? Rata2 semuanya pemuda. Bahkan Rosululloh memiliki penghargaan terhadap anak muda. Rosul menunjuk pemuda kalau pemuda memiliki kafa’ah sebagai seorang pemimpin, tidak ada larangan untuk ia jadi pemimpin. Hasan al Banna juga mendekati pemuda2nya sehingga menuliskan dalam study risalah ilasy syabab.

Fokus dakwah kepada pemuda menjadi fokus yang paling utama. Jama’ah secara non formal sekarang berusaha banyak membangun panggung untuk memunculkan ketokohan [ilmi, syiar]. Perlu dibangun atmosfer-suasana sehingga kelihatan islami. Kenapa kebaikan2 itu perlu terusss diberikan, karena dari batu yang begitu keras akan luluh juga oleh tetesan air. Caranya adalah bagaimana membangun pola komunikasi, membangun ketokohan, meningkatkan kesadaran agama di instansi kita. Tagline: menjadikannya sebagai ladang yang subur untuk melahirkan para pemimpin masa depan dakwah. Bagaimana membangkitkan semangatnya. Kita tidak akan melahirkan tokoh yang baik, selain dari TARBIYAH YANG BENAR.

Menguasai satu lembaga itu jangan tanggung2, puncaknya siapa? Kerja itu dulu, duit ngikutin dari belakang. Dalam kesulitan ada kemudahan datang. Ketika berjuang, yang paling penting adalah kita bergerak, bekerja, bekerja, dan kerja betul2 serius. Alloh yang akan membolak balikkan hati manusia, tetapi bagaimana kita mengikuti sunatulloh yang lain.

Menjadikan lahan yang kita kelola menghasilkan kader2 yang militan, mampu memenuhi kebutuhan2 para qiyadah. Kerja kita tidak terpisahkan dalam amal jama’i, sehingga target2 dari dakwah bisa kita penuhi. Performence ini perlu kita tingkatkan. Jika masih merasa belum maksimal, tingkatkan rasio dari perekrutan awal. Menghadapi satu kesempatan yang sudah dekat, …….

BEKERJA UNTUK INDONESIA!