Kadang, petaka kemaksiatan seorang atau sejumlah aktivis Islam melebar mengenai gerakan dakwah, atau menimpakan kekalahan kepadanya, atau menyebabkannya mendapatkan ujian berat. Apalagi, jika kemaksiatan itu tergolong dosa besar, atau dikerjakan level qiyadah [pemimpin], atau dilakukan figur panutan, atau tidak dicegah secara maksimal oleh gerakan dakwah, atau taubat darinya bukan taubat nashuhah. Maha benar Alloh ketika berfirman, “Dan peliharalah diri kalian dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang dzalim saja di antara kalian.” [Al-Anfal: 25]

Jika kita kaji Perang Uhud, kita temukan sebab kekalahan kaum Muslimin di dalamnya ialah indispliner sebagian pasukan pemanah, yang jumlah mereka tidak mencapai 4%, dari jumlah total pasukan kaum Muslimin ketika itu*). Apa akibatnya? Tujuh puluh sahabat terbunuh, perut mereka dibelah, hidung dan telinga mereka dipotong-potong, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam terluka, wajah beliau terluka, dan gigi antara gigi seri dengan gigi taring beliau tercabut. Kendati demikian, Alloh Ta’ala memaafkan mereka, seperti dijelaskan Al-Qur’an, “Dan sesunggunya Alloh memaafkan kalian.” [Ali-Imran: 152]

*) kalau pasukan kita 12, sekitar 4% * 12 == 0.48, ndak ada 1

Seseorang berkata kepada Al-Hasan Al-Bashri, “Bagaimana Alloh memaafkan para pemanah, padahal tujuh puluh sahabat terbunuh?” Al-Hasan Al-Bashri menjawab, “Kalau sekiranya Alloh tidak memaafkan mereka, tentu Dia menghabisi mereka semua.”

Itu semua akibat kemaksiatan, seperti dijelaskan Alloh Ta’ala, “Dan mengapa ketika kalian ditimpa musibah (di Perang Uhud), padahal kalian telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuh kalian (di Perang Badar) kalian berkata, “˜Dari mana datangnya (kekalahan) ini? “˜katakan, “˜Itu dari diri kalian sendiri”.” [Ali-Imran: 165]

Alloh Ta’ala berfirman, “Pada saat kalian lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Alloh memperlihatkan kepada kalian apa yang kalian sukai.” [Ali-Imran: 152]

Masalah ini juga terlihat dengan jelas di Perang Hunain. Di awal perang, kaum Muslimin kalah, akibat sebagian dari mereka terlalu bangga dengan jumlah pasukan dan senjata, serta lupa kalau kemenangan datang dari Alloh Ta’ala. Orang-orang yang bangga dengan jumlah pasukan dan senjata ketika itu orang-orang yang baru masuk Islam. Seorang dari mereka berkata, “Hari ini kita tidak kalah oleh pasukan yang jumlah tentaranya sedikit.” Akibat ujub seperti ialah seperti dijelaskan Al-Qur’an. “Dan (ingatlah) Perang Hunaian, yaitu di waktu kalian congkak karena banyaknya jumlah kalian, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepada kalian sedikit pun, dan bumi yang luas itu terasa sempit oleh kalian, kemudian kalian lari ke belakang dengan bercerai-berai.” [At-Taubah: 25]

Akhy-ukhty, aktivis Islam, renungkan baik-baik firman Alloh Ta’ala, “Dan bumi yang luas itu terasa sempit oleh kalian, kemudian kalian lari ke belakang dengan bercerai-berai.” [At-Taubah: 25]

Gerakan dakwah yang ingin menegakkan agama di atas bumi itu harus lebih serius memberantas kemungkaran di internal mereka, daripada kemungkaran di eksternal mereka. Sebab, jika mereka sukses memperbaiki kondisi internal mereka, mereka lebih sukses membenahi kondisi eksternal mereka. Bahkan, secara tegas, mereka tidak sukses memperbaiki kondisi eksternal sebelum mereka sukses membenahi kondisi internal mereka.

Masalah penting, yaitu kemaksiatan-kemaksiatan yang ini bukan hanya kemaksiatan-kemaksiatan yang terlihat, tapi mencakup kemaksiatan-kemaksiatan batin, yang tidak terlihat. Kadang, kemaksiatan-kemaksiatan batin, misalnya riya’, ujub, dengki, ambisi jabatan, dan sombong itu lebih membahayakan, daripada kemaksiatan-kemaksiatan yang terlihat. Sebab, sesuatu yang tidak terlihat itu seperti kanker, yang menyebar secara cepat di tubuh dan menghancurkannya tanpa sakit dan tanda-tanda yang bisa dirasakan orang yang bersangkutan dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Kecuali, setelah beberapa waktu, di mana ketika itu, dokter sudah tidak dapat berbuat apa-apa dan obat juga tidak berguna lagi. Bukankah kekalahan kaum Muslimin di Perang Hunain disebabkan kemaksiatan yang tidak terlihat, yaitu ujub? Biasanya, orang yang bukan pakar sulit mendeteksi penyakit-penyakit batin, apalagi yang bukan pakar!

Hendaklah gerakan dakwah mewaspadai seluruh kemaksiatan. Para qiyadah-nya harus membersihkan hati mereka dan berusaha semaksimal mungkin membersihkan hati kader-kader mereka, dengan segala sarana yang disyariatkan Islam. Mereka mesti tahu bahwa tindakan prefentif lebih baik dari tindakan kuratif dan sedikit uang untuk biaya tindakan kuratif dan sedikit uang untuk biaya tindakan prefentif lebih baik daripada berjuta-juta uang untuk biaya kuratif. Mereka juga harus tahu bahwa terapi dan tindakan prefentif paling penting untuk mengatasi penyakit-penyakit batin ialah para tokoh dan figur panutan di gerakan dakwah hendaknya paling taat kepada Alloh Ta’ala, hati dan organ tubuh mereka bersih dari segala syubhat, dosa-dosa kecil, dan dosa-dosa besar, baik dosa-dosa yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Rakyat itu menurut perilaku penguasa mereka dan mengikuti pemimpin mereka, wallahu a’lam.

-.-

Tadi malam sy merenung.. mencerna perkataan seorang al ukh, sudah jengah katanya dengan kondisi ini…….

Bergejolak serasa, tidak rela jika yang dimaksud itu adalah sy atau orang2 yang di sini😦
Astaghfirullah, banyak istighfar..

Ya Alloh, jika ada yang tanya kemarin apa yang sudah kita lakukan.. jawab apa?
Sebelum terlalu banyak menjawab, harus koreksi diri dulu, kemarin saya khilaf.. terlalu cair dalam berinteraksi, bahasa2 sms dan sejenisnya yang tidak pada tempatnya, atau interaksi berlebihan yang tidak perlu mungkin..

Meski diri ini sudah merasa kuat untuk tidak, tapi sy juga harus menjaga perasaan dan hati orang yang menilai diri ini sebagai “orang yang tua”.. adik2 yang baru terbentuk itu pasti secara alami melihat sebagai figur ikhwan-akhwat yang patut dicontoh.. Ya Alloh, kami bukan manusia sempurna, tapi semoga Engkau masih menjaga untuk tawazun dalam beramal,.. dimanapun, baik di lembaga amny maupun amah, di dalam maupun luar kota.. tidak ghulu dalam bersikap, keras di dalam tapi sangat cair di luar.. astaghfirullah,.. ampunilah, teguhkanlah, dan terimalah taubat kami ya Rabb..

Allohummaghfirli dzunubi wafta li abwaba rahmatik
#110428