Kekuatan iman biasanya dapat dilihat pada saat orang menghadapi perjuangan. Kekuatan cinta biasa dilihat saat orang merasa iba dan kasihan. Tetapi kekuatan iman dan cinta Abu Bakar kepada Rosululloh dapat dibuktikan dalam segala situasi dan kondisi. Itulah iman dan cinta abu bakar yang apabila ditimbang masih lebih berat daripada iman dan cinta seluruh umat Islam sesudahnya.

Suatu saat Umar mendengar banyak orang melebih-lebihkan dirinya daripada Abu Bakar. Lalu Umarpun berkata: Demi Alloh, satu malam dari Abu Bakar lebih baik dari seluruh keluarga Umar. Satu hari Abu Bakar lebih baik dari seluruh keluarga Umar. Ketika Rosululloh pergi menuju gua bersama Abu Bakar, sebentar-bentar Abu Bakar berjalan di depan Rosululloh dan sebentar kemudian berjalan di belakang Rosululloh. Melihat demikian Rosululloh bertanya, “Mengapa engkau berbuat begitu, hai Abu Bakar?”. Abu Bakar menjawab, “Ya Rosululloh, aku ingat lawan mengejar dari belakang, maka aku berjalan di belakangmu. Lalu aku ingat pengintaian lawan dari depan untuk mencelakakanmu, maka aku berjalan di depanmu.”

Rosululloh bertanya lagi, “Ya Abu Bakar, kalau terjadi sesuatu, apakah kamu lebih suka dirimu yang terkena dan bukan aku?” Abu Bakar menjawab, “Benar demikian, ya Rosululloh. Demi yang mengutusmu dengan haq.” Ketika berada di dalam guapun, Abu Bakar terlihat begitu sedih dan meneteskan air mata. Kemudian Rosululloh bertanya, “Kenapa kamu bersedih?” Ia menjawab, “Aku khawatir jika terjadi sesuatu kepadamu, ya Rosululloh” Peristiwa ini melatarbelakangi turunlah wahyu kepada Rosululloh, yaitu firman Alloh yang artinya, “Janganlah kamu bersedih, sesunguhnya Alloh pasti bersama kita”